Ohayo.... Konichiwa... Konbanwa....!

Jumat, 14 Juni 2013

Cerpen : Sweet Seventeen

Sebenarnya saat cerpen ini dimuat, saya udah nggak mikirin lagi Cerpen. soalnya saat itu saya udah mulai sibuk kerja, udah nggak sempet nulis cerpen lagi. Jadi, pas ada telpon dari Redaksi Teen dan bilang kalau Cerpen saya yang berjudul Sweet Seventeen bakal diterbitin, itu surprise banget buat saya. SENANG SAMPE KE LANGIT. (Lebai, hahahah)

Terbit di Majalah TEEN No. 250/XVIII/ Februari 2011
Saya emang cukup percaya diri waktu bikin cerpen ini. Saya yakin banget kalau cerpen ini bisa dimuat. Dan Alhamdulilah, keyakinan saya itu terbukti, meskipun baru terjawab seteelah 2 tahun penantian (Kirim bulan Januari 2009 dan baru ada keputusan dimuatnya sekitar bulan Januari 2011)..

Berikut isi cerita dari cerpen saya. Enjoy Reading!!!!


SWEET SEVENTEEN
Triana Fibrianty




Pukul 20.15, sesuai dengan ritual tahunan yang biasa aku lakukan, malam ini, selesai shalat isya, aku nangkring di atap rumah. Dengan membawa perlengkapan wajibku seperti jaket, selimut, topi, cemilan, kopi, hape, dan payung, aku akan menghabiskan malam di atas genteng sampai subuh. Begitulah caraku menyambut bertambahnya usiaku, intropeksi di tempat yang sepi, sambil menikmati keindahan alam di malam hari. Melihat kilauan bintang dan terang bulan, menikmati kesunyian, dan kadang malah lihat maling. Beneran, tahun lalu, pas aku lagi ritual, aku lihat ada maling lagi mengincar rumah tetanggaku. Aku gak tinggal diam donk! Aku lempar saja mereka pake sandalku, trus tu maling nengak-nengok mencari orang yang melemparnya pake sandal, dan… pas mereka lihat ke arahku, mereka langsung terbirit-birit, secara aku sengaja menyelimuti tubuhku dengan selimut warna putihku dan tertawa mirip kuntilanak.
“Neng, turun atuh, kayak nyenyet wae nangkring di genteng. Ntar kalau neng jatuh, bibi atuh yang diomelin sama ibu bapak!” Bi Nah berteriak-teriak khawatir melihatku nangkring di atas genteng.
“Tenang, Bi. Kau kan sudah berpengalaman, jadi gak bakalan jatuh, lagian Bibi gak usah khawatir deh, ayah bunda gak bakal marahin Bibi, mereka kan gak peduli sama aku.”
“Huuus, neng teh ngomong naon sih? Gak boleh atuh berpikiran jelek sama orang tua, ibu bapak teh sayang pisan sama neng Manda, kalau gak, mereka gak mungkin kerja keras demi untuk sekolahin neng setinggi-tingginya.”
“Tapi nyatanya mereka lebih milih dinas ke luar kota daripada merayakan hari ulang tahun aku, mereka itu gila kerja, Bi, sampe mereka lupa kalau mereka itu punya anak.”
“Itu mah namanya prosesionalitas neng…”
“Profesionalitas maksudnya, Bi?”
“Ya itu, Neng, maksud Bibi. Jadi bukan karena mereka gak sayang sama neng Manda, lagian kan neng sudah biasa ulang tahun tanpa mereka, kok protesnya baru sekarang?”
“Masalahnya ulang tahun aku yang sekarang ini kan special, Bi, sweet seventeen githu loh!”
“Swit sepentin teh naon, neng?”
“Maksudnya 17 tahun, bi. Umur 17 tahun kan umur yang istimewa, umur menuju kedewasaan dan aku ingin di hari yang istimewa ini aku ditemani sama orang-orang yang aku sayangin, termasuk ayah bunda, walaupun gak ada pesta besar-besaran.”
“Sudahlah, neng, gak usah sedih githu, kan ada Bibi yang selalu nemenin neng Manda, mungkin Bibi bukan siapa-siapanya neng Manda, tapi Bibi sayang pisan sama neng…”
“Yeee, Bibi itu orangtua aku juga kok, aku juga sayang banget sama Bibi. Ohya, Bibi masuk gih, udaranya dingin banget, nanti Bibi sakit lho!”
“Trus neng Manda gimana?”
“Ya aku akan terus di sini sampai subuh.”
“Tapi kan udaranya dingin banget, neng!”
“Aku sudah punya persiapan jaket dan selimut tebal, jadi Bibi gak usah khawatir.”
“Tapi banyak nyamuk…”
“Aku sudah pake lotion anti nyamuk, tenang saja.”
“Trus kalau neng nanti lapar gimana?”
“Bibi, aku kan sudah berpengalaman, jadi aku bawa stok cemilan banyak banget, jadi Bibi tenang saja deh, aku gak akan mati di sini kok.”
“Ya sudah, Bibi masuk, tapi kalau neng butuh apa-apa, panggil Bibi ya!”
“Oke, nanti aku telpon!”
Bibi dengan tergopoh-gopoh masuk ke dalam rumah.
Akh, sudah pukul 20.45, aku segera memulai ritualku dengan bersyukur kepada Tuhan karena sampai hari ini aku masih dikasih umur, memberikan aku kebahagiaan dan memberikanku ujian (Aku sangat bersyukur Tuhan masih memberikan aku ujian, karena hanya orang-orang terpilih saja yang akan diberi ujian sama Tuhan, dan ujian itulah yang meningkatkan derajat keimanan kita di mata Tuhan). Biasanya aku butuh waktu lama untuk ritual yang satu ini, karena kadang-kadang aku ujung-ujungnya malah curhat sama Tuhan, hehehe.
Setelah berdoa, aku mendengarkan musik dari handphoneku sambil menikmati keindahan malam yang hanya kulihat setahun sekali. Berkali-kali hembusan angin menyergap tubuhku dengan kencang sehingga membuat aku menjadi menggigil, tapi itu semua gak menggoyahkan hatiku untuk turun dari atap ini karena aku akan tetap nangkring di tempat ini sampe subuh tanpa tidur! SEMANGAT!
****
Pukul 21.55 tanpa sengaja pandanganku terarah pada sepasang remaja, cewek dan cowok, lagi boncengan motor, dan motor itu berhenti tepat di depan rumah Byan. Cowok itu ternyata Byan, dan ceweknya,,, SARI! Sari adalah teman satu organisasi di komplek rumah, aku tahu sih Sari akhir-akhir ini dekat sama Byan, tapi… aku gak nyangka kalau mereka sampe bisa… jadian! Kalau mereka gak jadian, kenapa juga jam segini mereka jalan, berduaan pula! Ya ampun, kenapa ya tiba-tiba dadaku terasa sesak ketika melihat mereka berdua? Apa iya aku sedang CEMBURU?
Byan adalah tetangga yang tinggal tepat di depan rumahku sejak 16 tahun yang lalu, dia adalah teman mainku dari kecil dan karena aku anak tunggal, aku jadi sangat manja pada Byan, walaupun umur kami sebaya, tapi Byan lebih terlihat dewasa daripada aku, dia selalu menjaga dan melindungi aku, Byan juga selalu ada dalam suka dan dukaku, makanya aku sayang banget sama Byan.
Oh ya, aku punya ritual ini sejak 4 tahun yang lalu, Byan selalu ada untuk menemani aku lho, dia selalu datang pas pukul 12 malam, ngucapin selamat ulang tahun padaku, dan menemaniku ngobrol sampe subuh, kalau sudah adzan subuh, kami turun, dan ke Masjid bareng untuk shalat subuh berjamaah. Dan hari ini, aku lumayan bertanya-tanya nih, apakah Byan akan datang malam ini? Entahlah, mungkin dia lupa kali sama hari ulang tahunku, buktinya tadi pas ketemu di sekolah, dia sama sekali gak bahas-bahas soal ulang tahunku. Ya sudahlah, wajar saja kalau dia lupa, aku kan bukan siapa-siapanya dia, apalagi sekarang dia sudah punya Sari, tentu aku bukan lagi prioritas utama untuknya.
Seharusnya Byan tahu kalau setiap tanggal 1 Februari malam, aku lagi nongkrong di genteng, tapi ternyata Byan sama sekali gak nengok ke atap rumahku, setelah Sari pergi dengan motornya, Byan langsung masuk ke dalam rumahnya. Akhirnya aku berspekulasi kalau Byan memang beneran lupa sama hari ulangtahunku. Ugh, hancur hatiku menerima semua kenyataan ini, apalagi melihat Byan bersama cewek lain selain aku.
Oh Tuhan, inikah kejutan yang hendak Kau berikah padaku dihari yang seharusnya membahagiakan untukku? Tanpa orangtua, tanpa Byan, dan tanpa kegembiraan…
Biasanya Byan selalu meminjamkan pundaknya ketika aku sedang merasa sendiri saat ditinggal oleh orangtuaku, tapi sekarang entah kenapa, Byan ikut-ikutan meninggalkanku.
Akh, kok aku nangis sih? Cengeng banget deh! Aku kan sudah biasa ulangtahun tanpa ayah bunda, dan Byan… dia kan bukan siapa-siapa aku, jadi gak ada kewajiban untuknya menemaniku, yah, aku harus gembira, aku gak boleh sedih, lagi percuma juga aku sedih, gak akan ada orang yang mau menghiburku, jadi aku harus menjadi Manda yang kuat, SEMANGAT, Manda!
****

“Ya ampun, neng Manda, ku naon atuh tidur di genteng? Nanti kalau jatuh gimana?” jerit Bi Nah yang membuatku kaget dan mataku jadi melek.
“Bibi ngagetin saja deh, lebai!” omelku.
“Ya maaf atuh, neng, Bibi cuma khawatir atuh neng Manda tidur di genteng, emang jang Byan mana, neng? Biasanya neng kan ditemenin sanma jang Byan!”
Sudah deh, Bi, jangan sebut-sebut nama itu lagi, aku bĂȘte dengernya!”
“Ya sudah, ayo atuh neng turun, sebentar lagi kan mau subuh, ayo kita ke masjid bareng!”
“Iya, Bi,” kataku sambil turun dari atap.
“Neng Manda, selamat ulang tahun ya, swit sepentin…” tubuh renta Bi Nah memelukku dengan erat.
“Makasih ya, Bi, aku sayang banget sama Bibi…”
“Ya sudah atuh, kita shalat ya, Bibi sudah bawain mukena punya neng.”
Pukul 05.15, setelah aku pulang dari masjid.
“Happy birthday, Manda!” Ternyata di ruang tamu ada banyak sekali teman-teman sekolah, organisasi, Byan, Sari, dan yang paling surprise adalah di situ ada ayah bunda. Oh my god, ternyata mereka bikin surprise party untukku.
“Selamat ulang tahun ya, sayang! Ternyata anak bunda sudah gede ya?” kata bunda sambil memelukku.
“Ayah bunda sengaja pulang cepat untuk bisa merayakan ulang tahun kamu lho, soalnya ini kan umur yang istimewa, sweet seventeen, jadi kami sebagai orangtua ingin mengantar anak kami menuju kedewasaan,” Ayah menimpali omongan Bunda.
“Terima kasih ya, ayah, bunda, aku pikir kalian gak akan datang, tapi ternyata…” Aku terharu banget.
Byan maju mendekatiku. “Manda sayang, selamat ulang tahun ya, sorry semalam gue gak datang nemenin lo, sumpah, gue ketiduran, tapi gue dan teman-teman organisasi punya banyak kado buat lo, kemarin kita barengan nyari kado buat lo sampe malam,” ujar Byan mewakili teman-teman organisasi.
“Jadi, lo gak pergi berduaan sama Sari?”
“Oh, kemarin lo lihat ya, ya gak lah, Sari nganterin gue pulang karena gue numpang naik motornya, secara lo tahu sendiri motor gue kan bannya pecah, masih ada di bengkel.”
“Ya ampun, Manda, jadi lo pikir Byan dan gue ada apa-apa githu? Gak mungkin lah, Byan kan sukanya sama lo, ups… keceplosan! Seru Sari.
Aku terpana. “Haaa? Beneran?”
Kulihat wajah Byan jadi merah menahan malu. Tampaknya dia gak menyangkal omongan Sari, duh, aku jadi ikutan malu nih…
“Nah, karena Manda belum mandi, ayo kita rame-rame mandiin Manda!” Byan dan teman-teman lainnya pada mengangkat tubuhku dan kemudian dengan teganya melemparku ke kolam renang.
“Bluuuuk!”
“Wadaaaaaw, sakeeeeet!” jeritku kencang.
“Ya ampuuuun, ku naon atuh, neng? Neng Manda teh jatuh dari genteng ya?” seru Bi Nah sambil membantuku bangun.
“Aduh, Bi, sakit banget. Kayaknya tulangku patah nih!” erangku kesakitan.
“Neng Manda teh tidur di genteng ya? Jang Byan mana atuh? Biasanya kan neng ditemenin sama jang Byan.”
“Duh, jangan bahas Byan deh, bisa-bisa kakiku tambah sakit nih, sakit banget, Bi!”
“Ya sudah, ayo kita ke Rumah Sakit, neng! Neng tunggu dulu di sini sebentar, Bibi mau ambil dompet dulu!”
****
Sial, sial, sial, ulang tahun sweet seventeen aku malah masuk rumah sakit. Kaki kiriku patah gara-gara jatuh dari atap genteng, trus gak seperti di mimpi yang indah itu, di rumah sakit aku cuma ditemani oleh Bi Nah, gak ada orangtua, apalagi teman-teman, katanya sih tadi Bi Nah sudah telpon ayah bunda, tapi mereka belum bisa pulang karena kerjaan mereka belum selesai dan baru bisa pulang besok. Mereka cuma kirim seikat bunga mawar pink kesukaanku, tapi bunga itu sudah aku buang dari tadi ke tempat sampah, emang mereka pikir aku bisa sembuh hanya dengan seikat kembang, emangnya aku setan dikasih kembang!
“Manda, lo kenapa?” Aku melihat sosok Byan ada di hadapanku, dia mencemaskanku.
“Byan…” aku agak senang dengan kehadirannya.
“Iya, ini gue Nda, lo gak kenapa-napa kan?” Byan menggenggam erat tanganku dan aku sangat yakin ini semua bukan mimpi.
“Lo ke sini sama siapa, Yan? Sendiri?”
“Gak. Gue sama… Sari. Nda, sebenarnya gue mau bilang kalau gue baru saja jadian sama Sari, semalam gue nembak dia dan…”
Duaaaar! Bagai ada petir besar yang menyambar tubuhku, aku beneran shocked mendengarnya, apalagi ketika melihat sosok Sari yang berjalan mendekatiku dan kemudian langkahnya berhenti tepat di samping Byan, dan sialnya mereka tampak sangat serasi!
“Gue denger dari Bi Nah, lo jatuh dari genteng, lagian lo tuh kenapa sih naik-naik ke genteng, lo kan cewek, Nda…”
“Byan, Sari, sorry, bukannya gue ngusir, tapi gue mau istirahat!” Aku langsung membalikkan badanku membelakangi mereka, soalnya aku sudah gak tahan lagi untuk menahan air mataku, rasanya sakit banget, mungkin lebih sakit daripada sakit badanku.
“Neng, selamat ulang tahun ya, neng jangan sedih, neng harus sabar dan inget, masih ada Bibi di sini yang akan selalu menyayangi neng, neng gak usah sedih ya.” Bi Nah sepertinya sangat tahu dengan perasaanku, ya iyalah, dia pasti ngerti, dia kan yang mengurus aku sejak lahir.
Tuhan, di sweet seventeen ini, walau jiwa dan ragaku ini sakit, aku sangat bersyukur karena Kau masih sisakan Bi Nah yang akan terus menyayangi aku sepenuh jiwanya. Bukankah manusia itu diciptakan untuk senantiasa bersyukur padaMu? Sekecil apapun nikmat yang telah Kau berikan, karena hidup bikan untuk meratapi derita…
Ya, itulah pelajaran hidup yang telah aku dapatkan selama 17 tahun aku hidup di dunia. Sweet seventeean.
****

Anyway, mungkin setiap kalian baca cerpen-cerpen saya kadang sukasad ending atau akhir kisahnya nggak sesuai harapan. Yah, saya emang suka akhir cerita kayak gitu. Seru aja bikin akhir cerita yang nggak sesuai harapan.

Dan saya konsisten membuat akhir cerita sad ending untuk cerpen-cerpen saya sampai hari ini.

Kamis, 13 Juni 2013

Puisi : BADAI CINTA

Saya juga suka menulis puisi looohhhh... Dan kebetulan, Puisi Badai Cinta ini saya buat saat saya sedang patah hati, putus dari pacar yang masih saya cintai.  Nah, daripada Puisi ini cuma disimpen di Disk Komputer, maka iseng-iseng saya kirim ke Tabloid GAUL. Eh, dia dimuat aja githu. Tambah eksis dah saya. hahahaha :-D

Terbit di Tabloid Gaul edisi 48/ thn VIII/ 14-20 Desember 2009
Sebelumnya saya mau mengucapkan TERIMA KASIH buat MANTAN PACAR SAYA yang sudah menjadi inspirasi terhebat sehingga saya bisa menghasilkan karya ini. Jiaaaah...

Dan inilah puisi yang saya ceritakan itu...


BADAI CINTA
Triana Fibrianty

Rintik rindu ini kian deras menghujani relung batinku
Menggigil tubuhku menahan bekunya hati
Jiwamu bagai bongkahan es yang sulit kulelehkan
Tak sanggup aku menembus keangkuhanmu
Kala badai cintamu menggerus rasaku

Kau hilang terseret lumpur asmara yang penuh gejolak
Semakin dasyat menenggelamkan kebahagiaanku
Berganti dengan penderitaan yang kian mengerucut ke permukaan
Aku bagai gunung yang mengalirkan lahar panas
Berusaha menjalar ke sungai cintamu yang membeku
Berharap kau mau sedikit mengerti akan sabda cintaku

Kasih,
Bahwasanya luka ini akan sulit mengering
Tapi aku tak akan berhenti mengirimkan ombak cintaku
Walau telah beribu kali kau menghempaskannya
Untuk sebuah pengabdian cinta


Bagus nggak puisinya? Saya bukan orang yang pandai membuat kata-kata sih. tapi setidaknya, dengan membuat puisi ini, hati saya sedikit lebih lega,

Dan kalau boleh jujur, saya jarang banget bisa bikin puisi yang bagus. Jadi bisa dibilang, puisi ini adalah salah satu puisi kebanggaan saya. hahahaha...


Cerpen : Dream Come (Not) True

Cerpen ketiga saya yang Alhamdulilah bisa dimuat lagi di Majalah. kali ini Majalah yang berkenan menampilkan cerpen saya ini adalah Tabloid Gaul.


Terbit di Tabloid Gaul Edisi 45/ thn VIII/ 23-29 November 2009

Jujur sejujur-jujurnya, cerpen ini saya buat berdasarkan kisah nyata yang pernah saya alamin. tokoh-tokoh yang ada di cerpen itu juga asli, tanpa rekayasa.Kecuali untuk nama tokoh utamanya.


Nggak taunya, cerpen dodol kayak gini lah yang membuat saya jadi eksis. SERIUSAN. setelah cerpen ini dimuat, banyak banget orang-orang yang mengajukan pertemanan di Facebook di http://www.facebook.com/triana.fibrianty dan mereka mensupport saya sebagai penulis. Terharu banget dah... *air mata bercucuran*


Sayangnya, nggak cuma kesenangan yang saya raih berkat cerpen ini, tapi ada juga yang bikin kesel. Ada beberapa orang yang ketahuan membajak cerpen saya. 

Oke, gue akuin, cerpen gue memang bagus! Tapi bukan begitu cara lo meng-apresiasikan betapa bagusnya cerpen gue. Membajak karya orang itu TINDAKAN KRIMINAL dan lo semua itu berarti sama aja kayak penjahat! *emosi*


Berikut orang-orang yang ketahuan membajak karya saya...

Pertama http://www.fanfiction.net/s/7471600/1/Dream-Come-not-True yang sangat dodol mengcopy paste karya saya tanpa permisi. cuma dia ganti nama tokohnya aja githu. Ni orang belum pernah disambit pake sendal jepit kali ya...


Kedua, Manusia Durjana yang membajak karya saya adalah pemilik blog ini 

http://ms-fitria.blogspot.com/2011/10/dream-come-not-true.html yang ternyata juga hanya mengganti nama tokohnya aja.



yang ketiga adalah manusia yang sedikit kreatif, dia memodifikasi cerita saya, tapi tetap aja judulnya ngebajak! pemiliknya http://kepiting-perkedel.blogspot.com. tapi belakangan akun blogspotnya sudah dihapus setelah orang itu saya tuntut abis-abisan. kasian... hehehehe

Bodoh banget lo semua, udah ngebajak, ketahuan sama yang punya karyanya lagi. kagak profesional banget deh!

Dan berikut adalah karya original saya... Selamat membaca!!!


Dream Come (Not) True
Triana Fibrianty




Kata orang, mimpi itu adalah bunga tidur, benar gak sih? Trus kenapa juga orang tidur bisa mimpi? Lucunya, tuh mimpi kadang aneh! Iya, aneh! Soalnya semalam aku baru saja mimpi aneh yang bikin aku jadi bingung gara-gara tuh mimpi. Dari tadi aku bangun tidur, sampai sekarang, aku gak bisa berhenti mikirin apa maksud dari mimpi itu.

Gini, aku ceritain tuh mimpi ya biar kalian gak penasaran. Jadi, semalam aku bermimpi aku jalan sama seorang cowok sambil bergandengan tangan menyusuri tepi pantai, kami berjalan di atas hamparan pasir putih. Saat itu, langit senja berwarna kemerahan menjadi backgroundnya.

Aku dan cowok itu terus berjalan, sampai kemudian cowok itu menahan tanganku untuk berhenti, aku menghentikan langkahku, kuberanikan diri untuk menatap wajah cowok itu, dia tersenyum padaku, dan tanpa permisi dia mencium keningku, kemudian memeluk tubuhku. Aku tidak bisa menolaknya, karena saat dia memelukku, aku merasakan kehangatan menjalar di tubuhku. Cowok itu terus memelukku, sampai pada akhirnya aku terbangun. Mimpi yang sangat romantis kan? Tapi aneh! Mungkin kalian bingung ya, memikirkan di mana letak keanehan dari mimpi itu? Memang sih, gak ada yang aneh, tapi yang bikin aneh itu adalah cowok yang ada di mimpi itu. Jelas-jelas aku tahu banget cowok yang ada di mimpi aku itu. Dia adalah Waqid. Dan yang bikin aneh lagi adalah Waqid itu bukan pacarku (karena aku lagi jomblo), bukan juga mantan pacarku, bukan teman baikku pula. Oke lah dia itu memang teman sekelasku, tapi sumpah deh! Aku sama sekali gak suka sama dia, ngobrol sama dia saja jarang, paling ngomongnya kalau ada yang penting doang, kalau gak ada yang penting, ya bodo amat!

Aku memang gak dekat sama Waqid. Makanya aku heran kenapa dia bisa hadir di mimpi aku, padahal aku gak sedikitpun mikirin dan merhatiin dia. Lah, kok dia bisa eksis di mimipi aku? Pakai ada adegan romantisnya segala lagi. Akh, aku jadi stress mikirinnya nih!

“Hei! Dodol garut! Pede banget sih hidup lo, sudah tahu telat eh jalannya kayak keong!” seru seseorang yang membuyarkan lamunanku.
“Eh, elo, Nev! Lah kok gue ada di sini sih?”
“Mati rabit, ternyata lo dari tadi bengong, Lun?” tanya Neva sambil mengendarai motornya pelan-pelan.
“Gak tahu! Trus, lo kok ada di sini?”
“Wah, parah lo! Kenapa lo, Lun? Kok kayak orang plongo githu? Halah, itu sih entar saja dijawabnya, yang penting kita sudah telat nih, buruan naik ke motor gue!” Neva langsung menarik tanganku.
“Apa? Telat? Perasaan tadi gue berangkat dari rumah setengah enam kok…”
“Sumpah lo? Berangkat jam setengah enam, jam tujuh lewat masih ada di sini? Jangan-jangan lo dari rumah sampai sini jalan kaki ya?”
“Gak tahu, gue lupa!”
“Lo kenapa sih, Lun? Dari tadi kok aneh banget? Sakit?”
“Gak tahu, gue bingung!” jawabku yang kayaknya belum menyatu dengan alam.
****
Sip deh! Untung saja pintu gerbang sekolah belum di tutup. Jadi masih belum terlambat. Setelah parkir motor, aku dan Neva lari-larian menuju kelas, coz biasanya jam segini, Bu Darmaya yang maha killer itu, sudah masuk kelas dan dia paling benci sama anak yang datang telat. Kalau dia nemuin anak murid yang masih saja telat waktu pelajaran dia, dia akan siksa anak itu sampai termehek-mehek. Maksudnya biar ada efek jera tapi caranya sadis euy!

Tepat di depan kelas,
“Wadaaaw! Waqid, kalau jalan lihat-lihat dong, hampir saja gue ketabrak sama lo. Kan bukan muhrim tauk!” semprot Neva yang nyaris bertabrakan dengan Waqid.
“Wah, kalian telat ya? Selamat lo, untung Madam Killer gak ada. Coba kalau ada, bisa dicincang jadi perkedel lo!” ledek Waqid.
“Memang Miss Devil itu kemana?”
Duuh! Kok aku jadi deg-degan sih di depan Waqid? Perasaan dulu kalau dekat Waqid, biasa saja deh. Apa ini efek dari mimpi aneh itu? Bodoh, itu kan cuma mimpi, masa aku harus terpengaruh sama mimpi yang gak jelas itu? Buat apa juga dipikirin!
“Luna kenapa sih? Kok wajahnya kelihatan bingung githu? Lagi mikirin apaan?” Tiba-tiba Waqid menatapku dan DUUUUUAAAARRRRR! Jantungku langsung berdenyut ekstra keras dan cepat.
“Tau tuh! Dari tadi dia aneh banget, bengong saja. Sampai-sampai dia gak sadar kalau dari rumahnya di Proyek sampai sekolah jalan kaki,”celoteh Newva.
“Wah, gawat tuh! Jangan-jangan Luna dihipnotis orang. Coba periksa hape sama dompetnya, masih ada atau gak?”
“Gue gak kenapa-napa kok… sudah ah, gue mau tidur. Mumpung lagi gak ada guru, gue masih ngantuk nih!”
Padahal sih kenyataannya aku gak bisa tidur sama sekali. Aku masih saja kepikiran sama mimpi itu. Sambil sesekali memperhatikan Waqid yang kini berada tepat di hadapanku, paling cuma berjarak semeter saja dari tempat aku duduk.
“Luna, gue hitung sampai tiga, lo harus cerita ke gue. Kalau gak, jangan pernah anggap gue sebagai sahabat lo lagi!” kata Neva yang tahu-tahu sudah nongol di hadapanku.
“Apaan sih? Memang apa yang harus gue ceritain ke elo?”
”Jangan sok bego, gue tahu banget, lo lagi ada masalah kan? Cepet ceritain ke gue atau gue akan buat perhitungan sama lo!”
“Lo tuh kenapa sih ngancamnya githu mulu, bosen gue!”
“Makanya kalau gak mau diancam, lo harus cerita ke gue!”
“Tapi lo janji ya jangan ngetawain gue. Gue bingung,  Va, semalam gue mimpi aneh banget!”
“Mati rabit, jadi lo dari tadi plonga-plongo kayak kebo cuma gara-gara mimpi? Gue kira lo lagi ada masalah besar eh ternyata cuma gara-gara mimpi, rugi gue khawatirin elo!”
“Tapi ini mimpinya aneh banget, Va. Gue mimpi di peluk sama Waqid!”
“Haaaa? Waqid?”
“Ampun deh, dia teriak, kalau orangnya dengar gimana? Gue gigit lo!” omelku.
“Sory, sory, memang lo suka ya sama Waqid?” Neva mengecilkan volume suaranya.
“Gak, mikirin dia saja gak, mandangin juga gak, apalagi suka. Dia kan bukan tipe gue banget.”
“Lah terus kenapa lo bisa mimpiin dia?”
“Itu juga yang dari tad gue pikirin, kok lo malah nanya ke gue sih? Gue juga bingung, Va. Apalagi tadi pas gue ketemu sama dia, gue jadi grogi dan salah tingkah, jantung gue berdebar-debar, kayaknya gue mulai terpengaruh sama tuh mimpi.”
“Jadi, intinya lo suka sama Waqid?”
“Gak. Kan sudah gue bilang, dia itu bukan tipe gue, Va.”
“Tapi gara-gara tuh mimpi, lo jadi suka kan sama Waqid? Anggap saja lo suka sama dia dan gue akan bantu lo dapetin Waqid.”
“Gila lo! Gak mungkin laaah!”
“Kenapa gak mungkin? Kan pelajaran Tata Boga, pas praktek masak, kita sekelompok sama Waqid. Jadi, lo bisa pedekate sama dia! Oke?”
“Haaa?”
Mati gue, kalau begini caranya, aku bisa suka beneran sama Waqid! Oh, Tidak!!!!
“Kok bengong lagi sih? Lo setuju kan?  Pokoknya gue yakin deh pas acara masak-masak minggu depan, lo pasti sudah jadian sama Waqid. Tenang saja deh! Kakaknya Waqid juga masih jomblo kok. Lo serahin saja semua urusan ke gue,” celoteh Neva dengan nada yakin.
****
Entah kenapa ya kok akhir-akhir ini aku jadi sering merhatiin Waqid dan suka cari perhatian ke dia? Apa aku sudah tersugesti sama Neva yang saban hari ngomongin soal Waqid? Wah, berarti Neva sukses donk dalam usahanya sebagai Mak Comblang!
“Hei Luna Mayat! Mulai deh plongonya! Orang lagi pada diskusi dia masih sempet-sempetnya bengong!” Neva marah-marah.
“Eh, gue ada dimana nih?” Aku jadi bingung sangking enaknya melamun.
“Mati rabit, jadi dari tadi lo gak dengarin gue, Waqid, Evan, dan Mila ngomong apa?”
“Memang kalian ngomong apa?” tanyaku tanpa dosa.
“Lo kenapa sih, Lun? Sakit? Kalau sakit mending lo pulang saja duluan,” sahut Waqid yang bikin aku jadi lagi-lagi salah tingkah.
“Gak kok. Gue cuma melamun saja tadi.”
“Ya sudah, gini loh ceritanya, besok kan kita mau ke pasar tuh belanja bahan-bahan untuk acara masak-masak hari senin. Jadi, kita janjian di depan pasar jam 9 pagi, on time. Nih, Lun, lo saja yang pegang uang belanjanya, kan lo tahu sendiri gue orangnya pelupa, jadi takut hilang.”
“Kok gue yang pegang sih, Nev? Mila kan bisa!” protesku.
“Wah, gue gak tahu besok bisa datang atau gak, kan gue ke gereja, gue minta toleransi lo semua ya,” kata Mila.
“Iya deh, tapi kan masih ada Evan.”
“Oke, sini gue yang pegang. Lumayan bisa beli komik Naruto terbaru!”
“Yee… stress lo! Ini kan uang buat belanja! Kalau gitu yang pegang… eh, gak deh, gue saja yang pegang uangnya!” Aku gak sanggup untuk menyebut nama waqid yang kini ada di hadapanku. Fuih, mana dia ngeliatin aku lagi, kan grogi!
“Oke, besok semuanya, kecuali Mila, harus datang ya!” Neva tampak semangat.
****
Pukul 08.45 aku sudah sampai di depan pasar yang dimaksud, tapi ternyata belum ada satupun anak yang datang. Aku mulai curiga, jangan-jangan mereka mau ngerjain aku, aku disuruh belanja sendirian sementara mereka santai-santai di rumah. Wah, pantas saja uangnya dikasih ke aku. Dasar licik!
“Lun, sudah lama nunggu ya?”
Anjrit, Waqid datang! Dia keren banget, baru kali ini aku lihat dia gak pakai seragam. Mantap banget deh untuk disantap eh maksudnya mantap banget untuk ditatap.
“Hei, kok bengong?”
“Oh, gak apa-apa. Kok yang lain belum datang ya? Katanya on time, ini sudah jam 9 baru kita berdua yang datang.”
“Memang cuma kita berdua kok yang belanja.”
“Apaa?”
“Evan tadi telpon gue, katanya dia gak bisa datang karena harus bawa kucingnya yang sakit ke dokter hewan. Sementara Neva, dia gak bisa datang karena lagi dapet, sakit perut katanya.”
Wah, ini sih siasatnya Neva. Waduh, gila saja aku harus jalan berduaan sama Waqid? Senang sih, tapi GROGI tauk!
Dan akhirnya, aku gak bisa menolak untuk berduaan sama Waqid hari ini. Mana aku dan waqid disangkain pengantin baru mulu lagi, habis mesra saja githu ke pasar berduaan. Aku kayaknya harus berterima kasih sama Neva yang sudah kasih aku kesempatan ini. Dan aku pikir gak ada salahnya juga kali ya aku pedekate sama Waqid. Kayaknya dia beneran masih jomblo. Buktinya, dari tadi hapenya sepi-sepi saja tuh, gak ada telpon atau SMS.
“Luna, awaaaas!” Waqid memelukku. Aku jadi kaget. Rupanya aku hampir keserempet motor yang lagi ngebut.
“Lo kenapa sih, Lun? Kok dari tadi bengong mulu? Lo sakit? Atau capek? Ya sudah, kita istirahat dulu ya? Kita makan, kebetulan gue juga belum sarapan!”
Eits, kok Waqid jalannya sambil gandeng tangan aku sih? Jadi pengen senang!
“Gak apa-apa ya kalau gue gandeng lo? Gue takut lo bengong lagi, kan gue gak mau lo kenapa-napa, tanggung jawabnya berat ke orangtua lo!”
Oh, githu toh maksudnya, gak apa-apa kok kamu pegang tanganku, soalnya tangan kamu hangat banget. Hangatnya sampai menjalar ke seluruh tubuhku. Eh, kayaknya aku pernah ngalamin hal kayak gini deh, kapan ya? Dejavu kah? Akh, aku ingat! Kejadian ini kan sama persis sama mimpiku, cuma beda background-nya saja, kalau di mimpi latarnya pantai, kalau sekarang latarnya pasar! Tuhan, apakah ini yang namanya the dream come true?
****
“Sudah selesai nih belanjanya. Lo gue antar pulang ya? Sekalian gue mau tahu di mana rumah lo. Gue bawa motor kok.”
Duh, apa nih maksudnya? Waqid pengen tahu rumah aku? Jangan-jangan Waqid sebenarnya juga suka sama aku? Duh, jadi geer nih!
“Lun, rumah lo di sekitar sini? Berarti dekat donk sama rumahnya… akh, itu dia anaknya… Pritaaaa!” Waqid memanggil seseorang dan kemudian menengoklah orang yang dimaksud itu. Ternyata dia manggil si Prita, tetanggaku yang baru pindah seminggu yang lalu.
“Lo kenal Prita, Qid?” tanyaku bingung.
“Iya, kenal banget.” Motor Waqid berhenti di dekat Prita dan Prita tersenyum sama Waqid.
“Aa kenal juga ya sama Luna? Oh iya,  kalian kan satu sekolah ya?” kata si Prita yang bikin firasatku jadi gak enak.
“Lun, gue gak nyangka rumah lo dekatan sama Prita, jadi kalau gue lagi ngapel ke rumah Prita, gue bisa sekalian nengokin elo ya…”
Mati rabit, kutu loncat, kadal bunting, bilang kek dari dulu kalau sudah punya pacar, kan gue jadi gak jatuh cinta sama lo gini. Dasar mimpi sialaaaan!!!
****

 Jangan lupa, sebelum meninggalkan halaman ini, tulis saran dan kritik untuk Cerpen ini ya. Makasih... ^^

Cerpen : Dan Ternyata Lola Itu...

Ini adalah cerpen kedua saya yang berhasil dimuat dimajalah setelah Over Lover Syndrome.

Cerpen ini rada-rada ngaco juga sih, di buat saat otak lagi konslet. tapi Alhamdulilah cerita ngaco itu bisa diterima dengan baik oleh MAJALAH KAWANKU.

Terbit di Majalah Kawanku No.52-2009 Tanggal 29 Juli-12 Agustus 2009
Bagi yang belum pernah baca karya saya ini, berikut saya sajikan sebagai hiburan kalian yang mungkin lagi bete, galau, atau lagi gelisah. Mungkin dengan membaca karya saya ini, kalian bisa terhibur. 


Dan Ternyata Lola Itu…
Triana Fibrianty



Dulu, aku pikir karakter Shacya yang ada di sitcom OB (Office Boy) itu cuma fiksi, secara lemotnya Shacya itu kan lebai banget, enggak mungkin lah ada manusia kayak githu di dunia ini. Tapi ternyata, pemikiranku itu terpatahkan ketika aku mengenal seorang cewek bernama Lola. Dia teman sekelasku di kelas 2C, teman sebangku malah. Karena pas kenaikan kelas dua aku gak sekelas lagi sama sobat-sobatku waktu kelas satu, jadi menurutku, duduk sama siapapun gak masalah. Dan ternyata aku kebagian jatah duduk sebangku sama Lola.
Secara fisik, Lola itu cantik, imut, ramah, dan baik hati. Makanya awalanya aku agak gak percaya waktu teman-teman bilang kalau Lola itu lemot dan tulalit. Diajak ngobrol suka GABUNG alias gak nyambung. Butuh kesabaran ekstra untuk bisa ngobrol sama dia. Pokoknya sesuai banget deh sama namanya, LOLA alias loading lama. Dan semua itu akhirnya terbukti saat aku ngobrol sama Lola, di hari pertama perkenalan kami…
“Oh ya, La, ngomong-ngomong rumah kamu di mana?” tanyaku yang saat itu masih belum percaya sama kelemotan Lola.
“Rumah? Idih kamu lucu banget sih, mana mungkin lah aku bawa rumah aku ke mana-mana, berat tahu, lagian memangnya aku kura-kura yang selalu bawa rumah di punggungnya. Eeem… memang kamu selalu bawa rumah kamu ya kalau mau pergi? Kamu taruh di mana? Gak mungkin kamu taruh di tas donk, kan gak muat…”
Toeng, toeng, jawabannya sama sekali gak nyambung! Sabar, sabar…
“Sori, maksud aku, kamu tinggal di mana?” Aku mencoba klarifikasi.
“Ya rumah aku ditinggal di tempatnya lah, di alamat rumah aku, alamatnya di jalan sawo 3 nomor 3…”
“Nah, maksud aku tuh itu, alamat rumah kamu,” sambarku sambil batin terus berkata, “Sabar, sabar!”
“Oh jadi yang dari tadi mau kamu tanyain tuh alamat rumah aku. Ngomong donk, kamu nanyanya gak jelas sih!” celetuk Lola tanpa dosa.
Please deh, dia yang tulalit kok aku yang disalahin? Nyebelin banget sih, pantas saja gak ada yang mau duduk sebangku sama dia. Nasib, nasib, naas banget sih aku harus sebangku sama Lola. Selama setahun pula? Ampun deh!
****
Beberapa hari aku mengenal Lola, aku baru sadar kalau Lola itu dijauhi sama teman-teman, gak ada yang mau ngobrol sama Lola dan kayaknya juga mereka gak mau peduli sama perasaan Lola. Tapi untungnya Tuhan menciptakan Lola dengan pede selangit, jadi, walaupun gak dikutsertakan dalam obrolan mereka, Lola suka ikutan nimbrung.
Yang bikin aku miris adalah saat tugas kelompok. Pasti deh gak ada yang mau sekelompok sama Lola. Akhirnya aku juga yang turun tangan, aku selalu meminta ke teman yang sekelompok denganku untuk mengikutsertakan Lola dalam kelompok. Bagaimana pun nyebelinnya Lola, dia kan temanku yang harus aku tolong saat susah. Untungnya Lola itu bukan orang pendendam. Dia selalu berpikir positif atas semua hal yang terjadi pada dirinya. So sweet banget kan?
Anyway, ternyata, usut punya usut, Lola itu anak orang kaya berat lho. Tiap hari saja kalau sekolah pasti diantar jemput sama supir dan mobil pribadi. Rumahnya juga gede banget sudah kayak istana raja, dan dia punya pengasuh pribadi yang tugasnya mengurus segala kebutuhan Lola. Bayanganku sih, kehidupan Lola kayak tuan putri yang ada di dongeng itu lho, serba Wah… tapi walau kaya, dia gak pernah memamerkan kekayaannya. Gaya hidupnya juga biasa saja.
****
Hari ini aku bad mood banget nih. Semalam aku baru saja diputusin sama Reza dengan alasan gak jelas dan itu bikin aku sedih banget. Mana gak ada orang yang bisa aku curhatin. Sobat-sobatku sejak beda kelas jadi sibuk sama dunianya masing-masing dan saat ini yang ada di hadapanku cuma Lola. Ugh, dia ngerti gak ya kalau aku curhatin?
“Amel, kamu kenapa sih kok daritadi wajahnya sedih banget? Kamu lagi ada masalah ya? Kalau mau, kamu bisa kok cerita ke aku, aku sebisa mungkin akan jawab…”
Jadi deh, aku curhat ke Lola sambil nangis-nangis penuh emosi. Aku ceritakan semua masalahku dari A sampai Z dan Lola tampak mengangguk-angguk dan menepuk-nepuk pundakku. Aku pikir, dia ngerti dengan apa yang aku omongin, makanya tanpa ragu aku minta pendapat dia tentang masalahku, dan tanpa rasa bersalah dia bilang ,”Sori ya Amel, ceritanya bisa diulang dari awal gak? Aku masih belum ngerti sama cerita kamu, kamu sih ngomongnya cepat banget, sambil nangis pula, aku kan jadi bingung, lagian memang sebenarnya Reza itu siapanya kamu sih? Kok dia sampai bawa-bawa tali dan putus githu, emang talinya buat apaan?”
Duh, oon banget sih nih anak. Orang udah ngomong sampai mulut pegal berbusa-busa, eh dia gak ngerti, pakai suruh ulang ceritanya dari awal lagi, males banget kan? Sabar, sabar…
“Oh, sori ya kalau masalah ini terlalu berat buat kamu. Aku curhat sama yang lain saja deh!” kataku rada-rada gondok.
“Berat? Kamu ada-ada saja deh… aku kan gak bawa apa-apa, jadi gak berat lah. Kalau aku mau mudik, bawa tas koper segede gajah, nah itu baru namanya berat. Kamu becandanya lucu juga ya?”
Ampun deh, kok bisa-bisanya aku curhat sama orang kayak gini, sama sekali gak bisa kasih solusi, malah bikin tambah mumet!
“Lho, Amel mau kemana?” tanya Lola ketika melihatku hendak beranjak dari hadapannya.
”Ke toilet, kebelet!” jawabku asal.
“Tapi nanti ke sini lagi ya. Kamu kan belum cerita ke aku, kenapa kamu sedih hari ini…” Tulalit… tulalit…
****
Ada kehebohan besar saat penerimaan raport semester satu tadi pagi. Lola yang terkenal lemot banget itu dapat juara tiga di kelas. Nah lho, kok bisa? Memang dia ngerti ya sama pelajarannya? Diajak ngobrol biasa saja gak nyambung, eh malah dapat rangking tiga. Akhirnya kejadian ini menjadi kasak-kusuk teman sekelas. Kabarnya, waktu ujian dia dapat bocoran soal dari Bu Emma, guru wali kelas 2C yang ternyata juga merupakan tantenya Lola. Gossip ini makin membuat Lola dijauhi sama teman-teman. Tadinya aku juga sempat menjauhi Lola, tapi kemudian aku kasihan lihat Lola kemana-mana sendirian, jadi aku balik lagi deh sama dia, walau resikonya aku ikut dijauhi sama teman-teman.
“Amel kok melamun saja sih? Lagi mikirin seseorang ya? Pasti lagi mikirin kak Almeer kan?” tebak Lola yang bikin aku syok berat. Kok dia bisa tahu sih kalau aku lagi suka sama kak Almeer, kakak kelas di 3 IPA 2 yang sudah sebulan ini jadi targetku.
“Kok kak Almeer sih?” Aku sok bego.
“Gak usah bohong deh, kamu suka sama dia kan? Mata kamu tuh gak pernah berhenti liatin kak Almeer.”
Idih, idih, ajaib banget nih anak nyambung diajak ngobrol, biasanya kan dia tulalit.
“Aku punya nomor hapenya, kamu mau gak?”
“Beneran? Memang kamu kenal sama kak Almeer? Kok sampai punya nomornya?”
“Dia kan kakak kelas aku waktu SMP. Dan kami pernah gabung di OSIS SMP, jadi aku lumayan kenal sama dia. Sebenarnya kemarin dia sempat nanyain kamu lho…”
OSIS SMP? Memang anak lemot kayak Lola bisa masuk OSIS? Aneh nih…
“Kalau kamu mau, aku bisa kok comblangin kamu sama dia!”
“Haaa?”
Aku jadi bingung deh, kok tumben banget ya Lola gak nyebelin, gak lemot kayak biasanya, dan dia kenal dengan cowok sekeren kak Almeer? Akh, aku jadi pusing nih!
****
“Lola, thanks banget ya, berkat kamu, akhirnya aku bisa jalan sama kak Almeer semalam!” seruku sambil memeluk Lola yang tampak kebingungan.
“Jalan? Kalian jalan kemana?”
“Nonton bioskop di Mall.”
“Apa? Kalian jalan sampai ke Mall???”
“Iya. Memangnya kenapa?” Aku bingung.
“Itu kan jauh banget, memang kalian gak capek jalan kaki sampai ke Mall?”
“Jalan kaki? Ya ampun, Lola, maksud aku tuh, kita jalan-jalan naik motor, bukan jalan kaki.”
“Tapi tadi kamu bilang kamu jalan sama kak Almeer, kok jadi naik motor? Gimana ceritanya sih?”
Heeeem… kambuh lagi nih lemotnya!
“Terserah kamu deh, La. Yang pasti aku senang banget nih, akhirnya aku bisa dekat sama kak Almeer!”
“Duduk berdekatan maksudnya?”
“Iya deh, duduk berdekatan dengan kak Almeer, hehe. Thanks ya, La. Aku jadi makin cinta nih sama kamu.”
“Idih, Amel seram deh, masa kamu cinta sama cewek? Seharusnya kamu bilang cintanya ke kak Almeer, bukan ke aku!”
Ya terserah Lola saja deh, lagian aku jadi lebih tenang kalau Lola tulalit seperti biasanya, daripada waktu itu dia benar ngomongnya, aku malah pusing. Tapi kayaknya aku sudah terbiasa sama lemotnya si Lola, aku sudah gak sebal lagi kalau dilemotin sama Lola, hehe…
****
Ada yang aneh dengan kak Almeer. Masalahnya, aku sering mergokin kak Almeer lagi asik ngobrol sama Lola. Akrab banget, dan mereka kayaknya nyambung banget. Selain itu aku juga baru tahu kalau ternyata mereka suka pulang bareng. Seperti hari ini, aku diam-diam ngikutin ketika mereka pulang bareng. Mereka tampak akrab, bahkan kak Almeer pakai rangkul-rangkul dan meluk Lola segala. Aku jadi emosi berat, apalagi ketika kak Almeer masuk ke dalam mobilnya Lola. Mobil itu meluncur menjauhi sekolah. Buru-buru aku kejar mereka dengan ojek, dan ternyata mobil itu bermuara di rumah Lola. Aku lihat dari jauh, kak Almeer mendekati satpam rumah Lola, dan mereka berbincang akrab. Huaaa… berarti kak Almeer sudah sering ke rumahnya Lola donk? Duh, mereka jahat banget sih, kalau memang mereka pacaran, kenapa juga Lola pakai comblangin aku sama kak Almeer. Dan kenapa juga kak Almeer seolah-olah ngasih harapan ke aku? Apa mereka mau mempermainkan aku?
Tadi, waktu kak Almeer masuk ke rumah Lola, aku sempet nelpon kak Almeer, dan dia bilang dia baru sampai ke rumahnya. Ih, bohong banget kan? Ya sudah, tanpa ba bi bu lagi, aku langsung pergi dari tempat itu, dengan emosi yang sudah gak terbendung…
****
“Amel. Kamu kenapa? Kok mata kamu bengkak? Habis nangis ya?” tanya Lola ketika ketemu aku di kelas.
Memang aku semalaman nangis gara-gara penghianatan kak Almeer dan Lola.
“Lola, kamu jahat banget sih?”
“Haaa? Jahat? Memang aku kenapa? Aku kan gak ngerampok, aku juga gak ngebunuh orang…”
“Aku serius, La. Kenapa sih kamu bohong sama aku? Kalau kamu suka sama kak Almeer, kamu jujur sama aku, jangan malah jodohin aku sama dia!” Aku agak emosi.
“Maksud kamu apa sih?”
“Sudah deh, jujur saja, aku sudah tahu kok, kemarin kamu pulang bareng sama kak Almeer kan! Terus dia main ke rumah kamu, tapi pas aku telpon, kak Almeer malah bilang kalau dia ada di rumah. Kenapa sih kalian berdua harus bohong sama aku? Kalau kamu memang suka sama kak Almeer, aku gak masalah, aku bisa terima, tapi bukan begini caranya!”
“Amel, kamu salah paham, aku memang bohongin kamu, tapi beneran, aku sama sekali gak ada niat untuk menghalangi hubungan kalian. Aku malah berharap suatu hari nanti kamu bisa jadi kakak ipar aku!”
“Haaa? Kakak ipar?”
“Iya, kak Almeer itu sebenarnya kakak kandung aku.”
“Kakak kamu?”
“Iya. Memang kita gak mirip ya?”
“Gak. Trus, sori, aku baru sadar, kok kamu ngerti sih sama omongan aku? Aku kan tadi ngomongnya cepat banget, pakai emosi pula, kok kamu bisa ngerti? Kamu bukannya…”
“Lemot?”
“Iya.”
“Nah, itu tuh yang pengen aku ceritain sama kamu. Sebenarnya aku gak lemot kok, aku cuma pura-pura lemot supaya gak ada yang dekatin aku.”
“Maksudnya?”
“Asal kamu tahu, dari dulu, aku tuh sebal banget, aku punya banyak teman, tapi mereka cuma mau manfaatin aku doank, minta traktir ini itu lah, minta kerjain PR lah. Pokoknya gak ada teman yang tulus mau berteman dengan aku. Tapi kamu tuh beda. Kamu tulus dan baik sama aku. Kamu mau terima aku apa adanya, bahkan ketika aku difitnah sama teman-teman, kamu tetap dukung aku.”
“Aku jadi geer nih. Aku gak sebaik itu kok. Kadang-kadang aku juga sebal banget sama kamu. Habis, lemot kamu kebangetan sih.”
“Sori deh. Tapi please… jangan bilang ke teman-teman ya kalau lemotku ini cuma pura-pura.”
“Beres. Tapi upah tutup mulutnya apaan donk?”
“Apa ya? Restu saja deh, biar kamu dan kak Almeer cepat jadian, cepat nikah, cepat punya anak, dan bisa bersama-sama terus selamanya.”
“Amin. Thanks ya.”
“Btw, kamu percaya kan kalau prestasi aku kemarin itu bukan karena tante aku? Aku usaha sendiri kok, gini-gini aku lumayan pintar lho!”
“Iya, aku percaya, soalnya waktu ke rumah kamu dulu, aku gak sengaja lihat raport SMP kamu. Dulu sih aku sempat heran, orang lemot kayak kamu kok bisa langganan juara, tapi aku sekarang aku baru ngerti deh…”
Dan ternyata Lola itu gak tulalit ok…
****

Sekian deh. Gimana ceritanya menurut kalian? Bagus nggak? Minta saran dan kritiknya yah... ^^ soalnya saran dan kritik kalian tentunya akan membuat saya semakin belajar untuk mengoreksi kesalahan saya. 

Next, saya mau tampilin lagi cerpen saya yang berhasil dimuat di Majalah. Judulnya : Dream Come (Not) True